Membuat berita berimbang

Salah satu tantangan yang tidak mudah ketika terjun dalam peliputan adalah membuat berita berimbang. Laporan yang berimbang merupakan dasar dari teknik peliputan yang penting. Berita atau laporan yang berimbang artinya, jika ada dua belah pihak yang bertikai dalam soal sengketa tanah, misalnya, maka tugas jurnalis adalah memberikan laporan yang relatif sama porsinya.

Tentu dalam praktek tidak mudah menempatkan kedua belah pihak dalam berita. Masalahnya, lead berita cenderung mengangkat satu pihak dan menomor duakan pihak lain. Dalam hal demikian, keputusan dan judgement jurnalis di lapangan lah yang menempatkan apa yang pertama dan apa yang kedua. Penempatan pihak pertama sebagai lead berita dan pihak kedua di bawahnya mungkin akan membawa konsekuensi protes dari pihak kedua.

Dalam hal seperti itu, maka si wartawan harus memutuskan berdasarkan sejumlah fakta misalnya, hari itu yang menonjol pihak pertama karena mengadakan jumpa pers. Atau pihak pertama berunjuk rasa sedangkan pihak kedua tidak melakukan apa-apa.

Sebaliknya jika pihak kedua – seperti dalam contoh sengketa tanah tadi – melakukan aksi memagar dan mematok batas tanah, maka bisa jadi pihak kedua diangkat sebagai judul dan lead berita. Pihak pertama paling ditanya tanggapannya mengenai langkah pihak pertama.

Standar pembuatan berita dengan berimbang ini tidak hanya berlaku di Indonesia tetapi hampir di seluruh dunia dianut oleh jurnalis. Oleh sebab itulah mengapa pernyataan satu pihak dalam sebuah persoalan semestinya diimbangi dengan dokumentasi, arsip, konfirmasi dan bahkan mungkin follow up news untuk hari berikutnya.

This entry was posted in Coverage tips, Writing tips. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

7 Comments

  1. Ratih
    Posted June 13, 2007 at 12:28 pm | Permalink

    kenapa mesti menempatkan pihak yang satu daripada pihak yang lain ? Padahal setiap orang mempunyai point of view yang berbeda. kenapa tidak diusahakan untuk menyeimbangkan berita ataupun tulisan.

    Para jurnalis seharusnya bisa berpikir subyektif dan juga obyektif. Supaya didapatkan kesimpulan yang memberikan jalan keluar.

  2. febri
    Posted September 15, 2007 at 3:58 am | Permalink

    actually i really with this statements. masalahnya pers di Indonesia terkadang masih sering menutupi fakta yang sebenarnya, tidak berimbang. contoh berita tentang korban perkosaan. yang disoroti lebih kepada wanita, nasibnya, bagaimana kejadian, dsb, tetapi hasil sidang sendiri akan ditutupi untuk melindungi sang pelaku. so press please show your professionalsm

  3. febri
    Posted September 15, 2007 at 4:00 am | Permalink

    sori tambahan diatas seharusnya i really agree with ……

  4. Romarius manik
    Posted August 25, 2008 at 11:14 am | Permalink

    Mengapa sulit mencari berita yang berimbang ?
    karena banyak persolan yang tidak benar dalam diri sendiri /jurnalis,sehingga berita bertolak belakang dengan berita yang sebenarnya .Artinya para jurnalis sendiri tahu berpikir Subjektif dan Objektik dalam mengambil suatu persoalan untuk meng akhiri bagaimana sebenarnya jalan keluar satu Masalah.

  5. velyn
    Posted February 11, 2009 at 9:06 am | Permalink

    terimakasih atas artikelnya.

  6. jeery
    Posted April 23, 2009 at 3:46 am | Permalink

    berita tuh ga mungkin berimbang kali, setiap media punya frame,ideologi masing2..begitu juga wartwan.kita sebagai manusia memang harus mengambil sikap mendukung satu sisi,begitu juga wartawan.wartawan kan juga manusia.

  7. shafira
    Posted January 13, 2010 at 3:14 pm | Permalink

    bs mnt tolong kirim by e-mail contoh berita yang berimbang g?

Post a Comment

Your email is never published nor shared.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>