-
Recent Comments
- bayo andi on LOWONGAN METRO TV
- okto on Kursus Broadcast Media di Jakarta
- Harlyn on Lowongan presenter RCTI
- jaka laksana prawira on Kursus Broadcast Media di Jakarta
- kadri on Contoh membuat CV
Categories
- Analysis (6)
- Books (9)
- Business (3)
- Careers (50)
- Coverage tips (51)
- Dictionary (4)
- Jobs (38)
- Jurnalistik (168)
- Online tips (11)
- People (4)
- Podcast (1)
- Radio (21)
- Television (19)
- Writing tips (28)
Archives
-
-
Meta
Career
Jounalists
Jurnalistik
Links
Media
Radio
Resources
- Al Jazeera Live
- American Journalism Review
- British Newspaper
- Career Builder
- Committee of Concerned Journalists
- Fair Reporting
- International Journalist
- Journalism
- Journalism Sites
- Journalist Tools
- Journalistmnet
- Journerdism
- Jurnalistik UIN SGD Bandung
- Jurnalistik UNPAD
- Kantor Berita
- Liputan 6 SCTV
- Maverickid
- Media Courses UK
- Radio TV UK
- Reportr.net
- Semai Broadcast
- Televisi Iran Live
- Telisik Jurnalisme
- The Online Journalism Review
- World Politics
Televisi
-
-
-
Recent Posts



Jurnalis sebagai Gatekeeper
Jurnalis atau wartawan tidak hanya menyambungkan apa yang dikatakan nara sumber tetapi juga menjadi penjaga gawang atau wasit antara nara sumber dengan pembaca/audiens. Jika jurnalis ini hanya hadir dalam sebuah peristiwa yang kemudian menyampaikan apa yang terjadi atau yang dikatakan saja, maka audiens atau pembaca mungkin kurang begitu mendapatkan tambahan pengetahuan.
Seringkali sebagai jurnalis hanya mengutip apa yang dikatakan oleh seseorang nara sumber tetapi juga yang lebih penting memperhatikan konteks permasalahan dimana peristiwa itu terjadi. Atau dimana sebuah pernyataan dikeluarkan.
Kadangkala hanya dengan mengungkapkan dan memaparkan apa yang terjadi tanpa diberikan konteks dan bingkai keseluruhan dari mosaik peristiwa itu, maka pendengar, pembaca atau audiens akan tersesatkan. Bisa saja berita yang muncul itu lepas dari konteks dan menimbulkan banyak interpretasi.
Sebagai contoh, ketika BBM diputuskan dinaikkan oleh pemerintah, kita tidak hanya mengemukakan fakta bahwa bensin, solar dan minyak tanah melonjak naik sekian persen. Lebih dari itu seorang jurnalis memberikan dan menambahkan persepektif dalam konteks apa keputusan itu diambil dan apakah argumennya juga shahih?
Disinilah pentingnya kemampuan jurnalis untuk menempatkan sebuah peristiwa dalam konteks lebih besar, dalam bingkai yang lebih luas dalam sebuah wacana yang pro dan kontranya jelas.
Tidak hanya bisa memberikan gambaran apa yang terjadi tetapi juga akan menarik jika terjadi diskusi mengenai kenaikan BBM tadi dalam masyarakat.
Bahkan bisa lebih dari itu, seorang jurnalis yang memiliki wawasan akan menambahkan konteks dunia dalam kenaikan BBM ini dan mungkin juga konteks regional. Malaysia dan Filipina sebagai contoh sudah menyesuaikan harga BBM ini.
Analisis lebih jauh bahwa, ketergantungan kepada impor BBM menyebabkan terpuruk situasi Indonesia. Tentu wacana yang bisa dimunculkan adalah apakah kemungkinan bisa mencegah preseden ini berulang dengan modal dan teknologi yang ada?
Disinilah peran wartawan yang akan ikut mencerdaskan pembacanya. Setidaknya sebuah peristiwa itu akan menarik dan banyak kaitannya sehingga tidak hanya menulis dengan apa yang dikatakan “kaca mata kuda”.
Sebagai penjaga gawang dalam pemberitaan berperan juga mencerdaskan pembacanya dan ikut memberikan tambahan pengetahuan mengenai kejadian sekecil apapun.