Dilema media online yang tidak kritis

Sejak Ketua KPK non aktif Antasari Azhar dinyatakan resmi ditahan, pemberitaan sebagian media online semakin tidak terkontrol. Jauh dari etika jurnalistik yang dijunjung tinggi tidak hanya di Indonesia tetapi juga seluruh jurnalis mancanegara.

Pemberitaan online di Indonesia dikhawatirkan akan terjebak sebagai media yang tidak kredibel, tidak akurat dan tidak menggunakan kaidah berimbang.

Sangat disayangkan kecepatan itu kemudian disalahgunakan oleh redaksi media online sebagai sebuah pemberitaan yang cenderung gossiping, berita dilepas tanpa sebuah pagar editorial yang handal. Media online dikhawatirkan menjadi sebuah jaringan berita gosip yang tidak mendidik para pembacanya.

Ketika kasus Antasari Azhar ini muncul media online diuji kredibilitasnya. Bagaimana sebuah penyelidikan sedang berlangsung seseorang kemudian divonis dengan berbagai berita gosip dari sumber yang tidak jelas. Dikhawatirkan media online menjadi sebuah alat kelompok tertentu bukan sebagai gatekeeper.

Oleh sebab itu kalau kita menyimak beberapa produk online di bidang pemberitaan cenderung menjadi tidak kritis, asal jadi dan menurunkan kualitas jurnalistik secara menyeluruh.

Sayangnya kelompok yang mengamati jalannya media ini tidak bekerja maksimal.

Di Inggris bila pemberitaan bersifat fitnah dan belum jelas akan berakhir di meja hijau dimana redaksi dan editor harus mempertanggungjawabkan isi berita itu. Ujung-ujungnya adalah denda berat apabila gugatan terhadap media online sekalipun dianggap sebagai sebuah pembunuhan karakter seseorang sebelum dibuktikan di meja hijau.

Inilah bagian dari ironi reformasi jurnalistik pasca orde baru dimana kebebasan kemudian menjadi tanpa saringan, tanpa kritis dan tanpa kendali. Siapa pemegang saham perusahaan media maka dia bisa saja menggunakanya sesuai dengan pesananan pemilik.

Disinilah kalangan akademisi, LSM dan Dewan Pers harus terjun langsung meningkatkan kualitas pelaporan jurnalistik menjadi sebuah karya yang kritis, seimbang, tidak memihak dan akurat.

Harus dipisahkan mana liputan investigasi, berita biasa dengan opini. Mencampur adukkan berita dan opini hanya karena ingin terlihat ekslusif akan menjadikan media online khususnya menjadi bahan tertawaan jurnalis dunia.

This entry was posted in Analysis, Coverage tips, Jurnalistik, Online tips, Writing tips and tagged , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

3 Comments

  1. Posted May 5, 2009 at 1:51 am | Permalink

    Sebagian media online yang dimaksud, yang mana saja Mas? Thanks.

  2. wong
    Posted May 10, 2009 at 6:30 pm | Permalink

    Iya mas, sebutkan saja, agar kami2 yang sering membaca media online bisa waspada. Thanks

  3. Posted February 17, 2010 at 10:08 pm | Permalink

    Mantap mas ulasannya…

Post a Comment

Your email is never published nor shared.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>